January 29, 2026

Oleh Tim Dosen Feb Universitas Warmadewa
Ida Ayu Agung Idawati, SE., MBA
N. Paramananda, SE., MM
A.A Ngr Mayun Narindra, S.E., M.Si

SULANGAI—Universitas warmadewa melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Kembali menunujukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Kali ini, fokus pemberdayaan ditujukan kepada Kelompok Usaha Jajanan Tradisional Bali di Desa Sulangai, Kecamata Petang-Badung. Program yang digagas dan dilaksanakan pada tahun 2025 ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengusaha jajanan tradisional agar lebih berdaya saing di era modern, dengan penekanan pada strategi pemasaran yang efektif dan manajemen keuangan yang berkelanjutan. Tim Pengusul PKM ini dipimpin oleh Ida Ayu Agung Idawati, SE., MBA, Bersama anggota tim N. Paramananda, SE., MM dan A.A Ngr Mayun Narindra, SE., M.Si. Tim PKM juga didukung oleh dua mahasiswa prodi manajemen dan Akuntansi, I Gusti Ayu Agung Ari Andini dan Nilam Uswatun Khasanah. Kolaborasi dosen dan mahasiswa ini merupakan wujud nyata implementasi konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), memberikan pengalaman dan belajar langsung di lapangan bagi mahasiswa serta kontribusi nyata dosen kepada Masyarakat.

 

Ibu I Gusti Ayu Tirtawati, pimpinan kelompok usaha jajanan tradisional di Desa Sulangai, Bersama enam anggota lainnya, telah lama berkecimpung dalam produksi berbagai jenis jajanan khas Bali seperti jaje sumping, jaje bantal, jaje cerorot, dan klepon. Salah satu produk unggulan yang menjadi ciri khas dan jarang dimiliki pengusaha jajanan tradisional lainnya adalah jajan “batun duren”. Jajanan ini tidak hanya dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga memenuhi kebutuhan upacara keagamaan dan kegiatan sosial Masyarakat. Namun, di Tengah potensi besar jajanan tradisional sebagai daya Tarik pariwisata dan ekonomi kreatif, kelompok usaha ini masih menghadapi berbagai kendala yang menghambat perkembangan mereka.


Kelompok usaha jajanan tradisional ini menghadapi beberapa tantangan utama. Pertama, pengelolaan keuangan mereka masih belum sistematis; sulit memisahkan uang pribadi dan usaha, serta perhitungan keuntungan sering tidak jelas, menghambat pengembangan. Kedua, strategi promosi yang minim membuat penjualan hanya mengandalkan pesanan dan mouth to mouth, tanpa adanya katalog atau kemasan menarik, serta kurangnya kerjasama dengan took atau restoran potensial. Ketiga, akses pasar terbatas karena penjualan terpusat di pasar tradisional Petang, sehingga sulit menjangkau konsumen yang lebih luas. Terakhir, produk dengan kemasan tradisional tanpa inovasi kurang menarik bagi pembeli modern yang mencari oleh-oleh unik dan tahan lama.


Menyikapi permasahan tersebut, Tim PKM Universitas Warmadewa merancang serangkaian Solusi komprehensif yang diimplementasikan melalui tahapan terencana. Pada tanggal 5 Juli 2025, tim PKM secara langsung mengunjungi Lokasi kelompok usaha di Desa Sulangai. Kunjungan ini diawali dengan sosialisasi program secara menyeluruh, dilanjutkan dengan penyuluhan dan pelatihan insentif yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra.


Pada kegiatan kunjungan tersebut, masing-masing anggota tim dosen memberikan penyuluhan sesuai keahliannya. Ida Ayu Agung Idawati, SE., MBA memaparkan pentingnya jiwa kewirausahaan yang adaptif dan inovatif untuk keberlanjutan usaha. Materi yang diberikan mencakup strategi pengembangan bisnis jangka panjang, seperti mengidentifikasi peluang pasar (termasuk menonjolkan jajan “batun duren” yang unik), mengembangkan produk sesuai tren tanpa meninggalkan ciri khas, serta membangun jaringan dan kolaborasi bisnis. Sementara itu, Bapak N. Paramananda, SE., MM, memberikan penyuluhan mendalam tentang strategi pemasaran. Beliau mengajarkan pemanfaatan promosi digital melalui WhatsApp Catalog dan media sosial (Facebook) untuk memperluas jangkauan pasar. Keunikan “batun duren” menjadi fokus utama, disarankan untuk diposisikan sebagai produk unggulan. Bapak Paramananda juga membahas cara memperluas akses pasar ke toko oleh-oleh modern, hotel, atau e-commerce, serta menyarankan kemasan khusus yang menarik dan informatif untuk “batun duren”. Terakhir, Bapak A.A Ngr Mayun Narindra, S.E., M.Si, berfokus pada pencatatan keuangan. Beliau mengajarkan metode sederhana untuk memisahkan keuangan usaha dari pribadi, serta membimbing mitra dalam mengelola modal. Ini termasuk cara menghitung harga pokok produksi (termasuk “batun duren”), menentukan harga jual, dan menyusun anggaran. Penekanan diberikan pada pencatatan harian konsisten (buku kas atau aplikasi digital) agar mitra dapat memahami kondisi finansial dan membuat keputusan bisnis yang tepat.


Program pemberdayaan ini diharapkan membawa banyak manfaat bagi Kelompok Usaha Jajanan Tradisional Bali di Desa Sulangai. Mitra akan merasakan peningkatan efisiensi usaha, pengelolaan keuangan yang lebih transparan, dan akses ke sumber pendanaan baru untuk pengembangan bisnis. Dengan inovasi kemasan dan strategi pemasaran digital, terutama dengan menonjolkan produk unik seperti “batun duren”, produk jajanan tradisional akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dan peluang lebih besar untuk dipasarkan ke luar daerah, termasuk sektor pariwisata. Pada akhirnya, program ini bertujuan untuk meningkatkan omset dan jangkauan pasar mitra, yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan kelompok usaha secara keseluruhan.


Rasa syukur dan kebahagiaan menyelimuti tim PKM Universitas Warmadewa atas kesempatan berbagi ilmu dengan kelompok industri rumah tangga Jaje Banten “Ayu Tirta” selaku mitra dalam kegiatan PKM ini. “Kami sangat berharap, bekal pengetahuan yang kami sampaikan ini dapat menjadi pondasi kuat dan langkah awal yang strategis bagi “Ayu Tirta” untuk terus tumbuh dan mengembangkan usahanya di masa depan,” pungkas Ida Ayu Agung Idawati, SE., MBA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *