
Badung – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Warmadewa kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program “Penguatan Stabilitas Produksi dan Tata Kelola Usaha pada Pengrajin Semat di Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Petang-Badung.” Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menggabungkan keilmuan manajemen, teknologi sederhana, dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan daya saing usaha berbasis potensi lokal.
Kegiatan PKM dipimpin oleh Ida Ayu Agung Idawati, S.E., M.B.A., bersama tim dosen Universitas Warmadewa, yaitu N. Paramananda, S.E., M.M. dan I Gusti Ayu Athina Wulandari, S.E., M.Si., dengan melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung dalam mengidentifikasi permasalahan masyarakat, menyusun solusi berbasis ilmu pengetahuan, serta melakukan pendampingan kepada pelaku usaha di lapangan.
Mitra dalam kegiatan ini adalah Kelompok Pengrajin Semat yang berlokasi di Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Kelompok yang dipimpin oleh Ni Wayan Warsiki tersebut memanfaatkan bambu Tamblang sebagai bahan baku utama pembuatan semat, yaitu lidi bambu yang digunakan sebagai pengikat berbagai sarana upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Melimpahnya sumber daya bambu di Desa Sulangai menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui usaha kerajinan tradisional.
Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kelompok pengrajin telah memiliki kemampuan produksi yang baik. Mereka bahkan telah memanfaatkan alat mekanis hasil inovasi mandiri sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Dalam satu hari, satu batang bambu mampu diolah menjadi semat dengan nilai ekonomi sekitar Rp60.000 hingga Rp70.000. Produk yang dihasilkan telah dipasarkan ke berbagai wilayah, mulai dari Banjar Sandakan, Kecamatan Petang hingga Kabupaten Gianyar melalui jaringan kekerabatan. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya berkembang karena masih dihadapkan pada berbagai kendala dalam aspek manajemen usaha maupun keberlanjutan produksi.
Permasalahan pertama yang menjadi perhatian tim PKM adalah lemahnya tata kelola keuangan usaha. Sebagian besar pengrajin masih mencampurkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga sehingga arus kas tidak terdokumentasi dengan baik. Kondisi tersebut menyebabkan modal usaha sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun keperluan adat, sementara penetapan harga jual produk masih didasarkan pada harga pasar tanpa memperhitungkan biaya tenaga kerja maupun penyusutan alat produksi. Akibatnya, keuntungan usaha tidak dapat dihitung secara akurat dan pengembangan usaha menjadi terhambat.

Permasalahan pertama yang menjadi perhatian tim PKM adalah lemahnya tata kelola keuangan usaha. Sebagian besar pengrajin masih mencampurkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga sehingga arus kas tidak terdokumentasi dengan baik. Kondisi tersebut menyebabkan modal usaha sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun keperluan adat, sementara penetapan harga jual produk masih didasarkan pada harga pasar tanpa memperhitungkan biaya tenaga kerja maupun penyusutan alat produksi. Akibatnya, keuntungan usaha tidak dapat dihitung secara akurat dan pengembangan usaha menjadi terhambat.
Berbeda dengan program pemberdayaan pada umumnya, PKM ini juga menyoroti persoalan stabilitas produksi sebagai tantangan utama yang dihadapi pengrajin semat. Sebagai perempuan Bali, para pengrajin tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha dan ibu rumah tangga, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan budaya dalam berbagai kegiatan adat (ngayah). Ketika intensitas kegiatan adat meningkat, aktivitas produksi sering kali berhenti karena belum adanya sistem pembagian kerja maupun perencanaan produksi yang terstruktur. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan produk menjadi tidak stabil dan berpotensi mengurangi kepercayaan pelanggan terhadap kontinuitas produksi kelompok usaha.
Melalui program PKM ini, tim Universitas Warmadewa menawarkan solusi komprehensif yang mengintegrasikan aspek keuangan, pemasaran, dan manajemen produksi. Pada bidang tata kelola usaha, mitra memperoleh pelatihan mengenai pemisahan keuangan usaha dan pribadi, penggunaan aplikasi pencatatan keuangan berbasis telepon pintar, serta pelatihan penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP) agar harga jual mencerminkan biaya produksi yang sebenarnya. Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha sekaligus memperkuat kemandirian finansial kelompok pengrajin.
Pada bidang pemasaran, tim PKM mendampingi mitra melakukan transformasi identitas produk melalui pembuatan logo, label kemasan, dan katalog digital. Pengrajin juga diperkenalkan pada pemanfaatan WhatsApp Business serta media sosial sebagai sarana promosi sehingga produk semat tidak lagi dipasarkan hanya sebagai barang curah, tetapi sebagai produk lokal yang memiliki identitas, nilai tambah, dan daya saing lebih tinggi di era digital.
Sementara itu, inovasi utama dalam program ini terletak pada penguatan stabilitas produksi. Tim PKM memperkenalkan penyusunan kalender produksi berbasis kalender adat Bali, sehingga kelompok pengrajin dapat merencanakan produksi sebelum memasuki periode padat kegiatan keagamaan. Pendekatan ini dipadukan dengan penerapan sistem buffer stock agar ketersediaan produk tetap terjaga ketika anggota kelompok sedang menjalankan kewajiban adat. Selain itu, tim juga mendampingi pembentukan kelompok kerja dengan mekanisme pembagian tugas (job sharing) sehingga pesanan pelanggan tetap dapat dipenuhi secara konsisten meskipun sebagian anggota berhalangan bekerja.
Ketua Tim PKM, Ida Ayu Agung Idawati, menjelaskan bahwa keberhasilan usaha mikro tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kontinuitas produksi dan mengelola usaha secara profesional.
“Semat merupakan produk yang memiliki nilai budaya tinggi sekaligus memiliki potensi ekonomi yang besar. Melalui program ini kami ingin membantu pengrajin tidak hanya meningkatkan kemampuan mengelola keuangan dan pemasaran, tetapi juga menciptakan sistem produksi yang tetap stabil meskipun harus menjalankan kewajiban adat. Dengan demikian, budaya lokal dan produktivitas ekonomi dapat berjalan secara harmonis.”
Melalui program ini, Universitas Warmadewa berharap Kelompok Pengrajin Semat di Banjar Sandakan mampu berkembang menjadi usaha yang lebih profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki sistem produksi yang tangguh. Pemberdayaan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat keberlanjutan usaha berbasis budaya lokal sebagai salah satu penggerak ekonomi desa di Kabupaten Badung.
