
Denpasar – Universitas Warmadewa melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) mendorong percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber di Desa Pemogan dan Desa Pemecutan Kelod, Kota Denpasar. Program tersebut mengangkat tema “Percepatan Penanganan Pemilahan Sampah Berbasis Sumber” dan dilaksanakan pada 20 Juli hingga 30 Agustus 2026.
Kegiatan ini melibatkan 15 mahasiswa KKN dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan (DPL) I Gede Nyoman Carlos Wiswanatha Mada, S.E., M.M. Program tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Pengelolaan sampah berbasis sumber menekankan pemilahan sampah sejak tempat sampah dihasilkan, seperti rumah tangga, sekolah, perkantoran, pasar, dan kawasan usaha. Sampah organik, anorganik, dan residu dipilah sejak awal agar dapat ditangani sesuai karakteristiknya sebelum dibawa ke tempat pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.
Temukan Sejumlah Kendala di Lapangan
Berdasarkan hasil survei mahasiswa KKN bersama dosen pembimbing dan tim dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali-NUSRA, masih terdapat sejumlah kendala dalam penerapan pemilahan sampah berbasis sumber di Desa Pemogan dan Desa Pemecutan Kelod.
Beberapa kendala yang ditemukan antara lain kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada pola kumpul–angkut–buang, keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, serta kapasitas pengelola yang masih perlu diperkuat. Sistem pengangkutan juga dinilai belum sepenuhnya mendukung pemilahan karena sampah yang telah dipisahkan berpotensi kembali tercampur.
Selain itu, tim menemukan masih adanya pembuangan sampah secara liar oleh pihak yang disebut dalam laporan bukan berasal dari kedua desa tersebut. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di wilayah setempat.
Dalam kegiatan lapangan, mahasiswa juga melakukan observasi dan berinteraksi dengan masyarakat. Dokumentasi pada laporan memperlihatkan aktivitas mahasiswa saat melakukan pengamatan lingkungan, berdiskusi dengan masyarakat, serta mengidentifikasi kondisi pengelolaan sampah di lingkungan permukiman dan fasilitas masyarakat.
Penguatan Koordinasi dan Sarana Pengelolaan Sampah
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sampah di tempat penampungan sementara (TPS) masih ditemukan dalam kondisi tercampur. Tim merekomendasikan penguatan koordinasi dan pengawasan oleh pemerintah desa agar pemilahan sejak sumber dapat berjalan selaras dengan sistem pengangkutan sampah.
Tim juga mendorong peningkatan sosialisasi kepada masyarakat secara bertahap serta penguatan regulasi di tingkat desa melalui peraturan desa (Perdes) dan perarem terkait pengelolaan sampah. Keterlibatan aktif pemerintah desa dinilai penting, terutama dalam memastikan mekanisme pemilahan dan pengangkutan berjalan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
Dari sisi infrastruktur, laporan merekomendasikan peningkatan fasilitas seperti TPS 3R, tebe modern, dan tong komposter. Penguatan sumber daya manusia pengelola serta peningkatan pemanfaatan bank sampah oleh masyarakat juga menjadi bagian dari solusi yang diusulkan.
Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat
Program KKN-PPM tersebut tidak hanya menitikberatkan pada aspek fasilitas, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Edukasi mengenai pemilahan sampah sejak sumber dipandang penting karena keberhasilan pengelolaan sampah sangat berkaitan dengan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Laporan program mencatat bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mencakup aspek perilaku masyarakat, kelembagaan, pembiayaan, infrastruktur, serta keberlanjutan sistem pengelolaan. Karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan terpadu melalui edukasi, penguatan fasilitas, peningkatan kapasitas pengelola, serta dukungan kebijakan dan pengawasan.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Warmadewa bersama mahasiswa KKN-PPM berupaya memberikan kontribusi dalam memperkuat praktik pemilahan sampah berbasis sumber di tingkat masyarakat. Program ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam mengidentifikasi persoalan lingkungan dan mendorong solusi yang dapat diterapkan bersama masyarakat serta pemerintah desa.
