
Buleleng – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Warmadewa (Unwar) mendampingi kelompok peternak babi lokal di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, untuk membenahi pencatatan keuangan dan memperluas pemasaran melalui kanal digital. Program bertajuk “Implementasi Strategi Manajemen Keuangan dan Distribusi Pemasaran Digital pada Usaha Babi Lokal” ini didanai Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Internal Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Unwar Tahun 2026, melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.
Tim diketuai Dr. I Putu Budi Anggiriawan, SE., MSi., CPA., ASEAN CPA, dengan anggota I Gede Surya Pratama, S.E., M.M. dan Putu Gede Wisnu Permana Kawisana, SE., MSi., serta melibatkan dua mahasiswa, Ni Luh Sri Wahyuni dan Putu Dian Satyawati. Mitra kegiatan adalah kelompok peternak babi lokal (babi hitam) di Banjar Munduk yang diketuai Kadek Edy Kusumaningrat.
Kelompok yang beranggotakan lima orang ini sebenarnya memiliki pasar yang nyata. Rata-rata mereka menjual sekitar 15 ekor babi per bulan dengan harga Rp1,5 juta hingga Rp1,7 juta per ekor, dan pada Januari 2026 memelihara empat ekor indukan serta 20 ekor anakan. Namun, usaha tersebut belum dikelola secara tertib. Pengeluaran untuk bibit, pakan, dan obat-obatan lebih banyak diingat daripada dicatat, uang usaha masih bercampur dengan kebutuhan rumah tangga, dan penjualan sangat bergantung pada tengkulak.
Kondisi itu membuat peternak sulit mengetahui berapa sebenarnya biaya produksi per ekor, berapa keuntungan yang diperoleh, dan berapa harga jual yang layak. Di sisi lain, jumlah ternak belum disesuaikan dengan pola permintaan. Saat permintaan sepi, babi menumpuk dan biaya pakan membengkak. Sebaliknya, menjelang hari raya dan upacara adat, stok justru sering tidak mencukupi.
Tiga Fokus Pendampingan
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PKM menjalankan tiga kegiatan utama dengan pendekatan partisipatif, mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi. Pertama, penguatan manajemen keuangan. Peternak diajak memisahkan uang usaha dari uang pribadi, mencatat setiap transaksi melalui aplikasi pembukuan sederhana di telepon pintar, serta menghitung titik impas atau Break-Even Point (BEP) sebagai dasar menentukan harga jual, bukan sekadar mengikuti harga yang ditawarkan pembeli.
Kedua, digitalisasi pemasaran. Mitra dilatih membuat profil usaha di WhatsApp Business, menyusun katalog digital berisi jenis dan ketersediaan ternak, serta memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli di luar desa. Mahasiswa turut membantu dokumentasi produk dan pembuatan katalog.
Ketiga, penguatan manajemen persediaan dan jaringan pasar langsung. Peternak menyusun kalender produksi yang mengacu pada perkiraan permintaan, termasuk momentum hari raya keagamaan Hindu, sehingga jadwal pembibitan dan pembesaran bisa diatur lebih tepat. Mitra juga didorong membangun hubungan langsung dengan pengusaha babi guling dan jasa boga agar rantai distribusi lebih pendek dan posisi tawar peternak menguat.
Pemahaman Peserta Meningkat
Efektivitas kegiatan diukur melalui pre-test dan post-test berisi sepuluh soal kepada lima peserta. Hasilnya, nilai rata-rata naik dari 63,20 menjadi 84,60, atau meningkat 21,40 poin (33,86 persen). Seluruh peserta mengalami kenaikan nilai, dengan capaian tertinggi diraih Kadek Edy Kusumaningrat yang naik dari 72 menjadi 92. Tim menilai hasil ini sebagai indikator awal bahwa kombinasi edukasi, praktik langsung, dan pendampingan mampu meningkatkan pemahaman peternak tentang pengelolaan keuangan, pemasaran digital, dan pengaturan persediaan.
Serah Terima Sarana Produksi
Selain pelatihan, tim PKM juga menyerahkan bantuan sarana produksi kepada mitra pada 13 Juni 2026. Bantuan tersebut meliputi pembangunan dan perbaikan kandang babi berukuran 3 × 8 meter, satu unit timbangan ternak digital, peralatan peternakan dan sanitasi seperti sekop, ember pakan, dan selang air, perlengkapan kerja berupa sepatu bot, sarung tangan, dan penutup kepala, serta satu unit mesin pencacah pakan ternak. Sarana ini diharapkan menambah kapasitas kandang yang selama ini menjadi kendala ketika permintaan meningkat.

Program ini tidak berhenti pada pelatihan. Tim PKM Unwar akan terus memantau keteraturan pencatatan keuangan, penggunaan WhatsApp Business dan katalog digital, penerapan kalender produksi, serta perkembangan jaringan pemasaran kelompok. Pendampingan lanjutan tersebut diarahkan agar peternak babi lokal Desa Banjar mampu mengelola usahanya secara mandiri, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keberadaan babi lokal Bali yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat.
